Taked with full cr: thedreamerstory.wordpress.com
***
Tittle
: Escape from the Undead Land [ Part I]
Author
: Jung Yeonmin
Cast
: Lee Hyukjae, Kim Youngwoon, Lee Donghae, Jo Youngmin
Genre
: Horror, Thriller, Friendship, Family
A.N
: annyeong, aku kembali dengan fanficku yang untuk pertamakalinya aku
bikin fanfic bergenre horror dan thriller ke ke ke ke ke, yaah harap maklumi
kalau kalian merasa sama sekali tidak mendapat horror dan thrillernya soalnya
ini pertama kalinya aku bikin fanfic bukan comedy xD. oke deh, happy readingyaa ^^
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

tolong.. tolong aku..
seseorang tolong aku
panas, seseorang keluarkan aku dari sini aku mohon
appa eomma.. kalian kenapa??
aku belum ingin mati
tolong seseorang tolong aku!
Author POV
Langit biru telah terganti menjadi gelap, sang surya kembali ke
peraduannya, burung gagak menyerukan nyanyiannya. sinar buatan mulai
memancarkan cahayanya yang redup. sepi menyelimuti setiap mili sebuah desa yang
bagaikan kota para zombie. penghuni desa tersebut berkelakuan aneh, tidak ada
satupun dari mereka yang seperti hidup. mereka semua mempunyai tatapan kosong,
kulit pucat, dan bibir yang pucat. bahkan, ketika orang asing menjejakan kaki
mereka ke desa itu, tidak ada satupun yang tersenyum bahkan menyapa mereka.
terlihat seorang namja berusia sekitar 17 tahun, dengan berbagai
macam goresan di pipinya menandakan ia tidak takut menghadapi bahaya. rahangnya
yang tegas, dan matanya yang menandakan ia sama sekali tidak takut memasuki
wilayah itu. terlihat jelas diwajahnya ia justru heran melihat kelakuan para
penduduk desa sekaligus hawa dingin yang menembus jaket serta baju berlapis lima
itu.
“hey, appa eomma kalian yakin bibi Hyeon tinggal di tempat
seperti ini?”
“diamlah hyukjae! tidak usah banyak protes! appa sudah habis
pikir dengan kelakuan mu ini hanyalah satu-satunya jalan yang mungkin akan
merubahmu..”
“haah appa masa hanya karena aku membolos sekolah untuk
berkelahi kau langsung marah padaku?”
“Apa katamu hanya??? tapi kau sudah sering melakukannya! kau tak
mengerti hyukjae! kau telah mencoreng nama keluarga kita!”
“kenapa? appa malu punya anak sepertiku? kenapa appa tidak sekalian
membuangku saja! tidak usah menitipkan pada keluarga atau..”
“Sudah cukup! hentikan! hentikan perkataan mu hyukjae!”
“eomma aku…”
“Youngwoon sudah lama kita tidak berjumpa..”
kata seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba saja muncul
diantara kegelapan memotong pembicaraan mereka. wanita paruh baya itu tidak
berbeda jauh dengan penduduk desa lainnya, kulit dan bibirnya pucat, rambutnya
telah berwarna keputihan, kerutan-kerutan terlihat jelas diwajahnya, namun di
bibir pucatnya ia menyunggingkan senyum yang dipaksakan.
“masuklah..
diluar sangat dingin lagipula.. Ia tidak
akan senang jika kalian ribut-ribut disini..”
“Hyeon noona, kami kemari hanya untuk mengantarkan anak kami,
kami sedang terburu-buru..”
“jadi ini bibi hyeon? ia terlihat berbeda dari yang di foto”
“foto itu diambil saat aku masih berusia 30 tahunan jelas itu
sudah lama sekali” kata bibi hyeon sambil setengah terkekeh.
“kenapa hyukjae? kau takut?” goda eommanya.
“tidak! aku tidak pernah takut pada apapun! lagipula.. kalian
memang ingin aku pergi jauh dari hadapan kalian kan?” katanya sengit.
“kauuu…” kata appanya geram, iapun nyaris melayangkan
tamparan di wajah anak semata wayangnya itu namun hal itu berhasil digagalkan
eommanya.
“sudahlah, sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini kita
hanya akan mengganggu penduduk desa yang lain jika terus membuat keributan..”
kata eommanya.
“ya.. baiklah hyeon noona.. aku menitipkan anak ini padamu, kau
boleh menghukumnya jika kau ingin..”
“iya, tenang saja Youngwoon-ah..”
Appa dan eomma namja yang bernama hyukjae itupun membalikan
badannya. merekapun memasuki mobil mereka dan menghidupkan mesinnya. setelah
melambaikan tangan, mobil itupun dipacu untuk berjalan beberapa menit kemudian
mobil itupun menghilang dalam kegelapan.
Youngwoon POV
aku melaju mobilku dengan kecepatan standar, aku berharap begitu
namun entah mengapa mobil ini dengan sendirinya melaju lebih cepat daripada
yang aku inginkan. namun aku tidak menghiraukannya lagipula, aku memang ingin
cepat keluar dari tempat itu. entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa
bisa-bisanya heyon noona memilih untuk tinggal di kota mengerikan itu, namun
kuharap ini dapat berguna untuk hyukjae.
“yeobbo..”
“iya? ada apa?”
“kapan kita akan menjemput hyukjae.. aku kasihan padanya apa ia
akan ketakutan disana?”
“tenanglah.. mungkin.. seusai liburan kita akan menjemputnya..
kurasa tidak! dia sama sekali tidak takut..”
“tapi.. tetap saja perasaanku tidak enak.. dialah satu-satunya
anak yang kita miliki..”
“tenanglah, dia aman bersama hyeon noona..”
Kriiing Kriing Kringg
handphoneku berdering, memotong obrolan kami berdua. akupun
menggapainya dan segera menjawab orang yang berada di sebrang telphone sana.
“annyeong, siapa ini?”
“Youngwoon hyung gawat! ini aku! ini Sungmin!”
“ah sungmin, ada apa? ada sesuatu hal yang gawat?”
“iya! Hyeon noona!!”
aku terbelak mendengar kata itu keluar dari mulut adik
kandungku. mataku membulat, jantungku berdetak hebat, akupun menghentikan
mobilku.
“ada apa dengannya? aku baru saja bertemu dengannya beberapa
menit yang lalu..”
“APA? itu MUSTAHIL! tidak mungkin kau pasti bermimpi bertemu
hyeon noona!”
“a..apa maksutmu???”
“apa tidak ada yang memberitahukanmu? heyon noona.. heyon
noona.. dia meninggal akibat kecelakaan seminggu yang lalu..”
“APA???? kau pasti bercanda! aku baru saja menemuinya! itu tidak
mungkin!”
“yeobbo ada apa??”
“aku tidak berbohong! hyeon noona sudah meninggal sejak seminggu
yang lalu, aku terus berusaha menghubungimu namun selalu gagal.. aku
mengunjungi rumahmu dua hari yang lalu namun rumah mu sepi tidak ada satu
orangpun disana..”
“ayolah sungmin.. jangan bercanda! aku baru berangkat pagi ini,
kemarin kemarin aku masih ada dirumah..”
“tapi hyung.. aku berani bersumpah! hyeon noona sudah meninggal
seminggu yang lalu..”
akupun menulan ludah, keringat dingin mengucur dari seluruh
tubuhku. nada sungmin sama sekali tidak menunjukan bahwa ia berbohong. tangan
dan kakikupun langsung reflek bergerak, akupun dengan cepat memutar balikan
mobilku dan melajunya dengan kecepatan tinggi. aku tidak memperdulikan suara
istriku yang bertanya sambil setengah menangis melihat kelakuanku, suara dari
telphone yang belum sempat kumatikanpun memanggil namaku berkali-kali. namun
aku tidak memperdulikan semua itu, yang aku tahu hanya satu, memastikan
semuanya. namun nihil, lajuan mobilku terhenti, terhenti oleh sebuah jalan
buntu. sebuah jurang yang sangat tajam, membentang luas terdapat sungai deras
dan juga hutan di dasarnya.
“apa ini??? kita tidak melewati jalan ini tadi! mana jalan
menuju tempat tadi!! kemana???” tanyaku mulai frustasi dan menjambak-jambak
rambutku, kini penyesalan itu mulai menyelimuti perasaanku.
“yeobbo katakan.. apa yang dikatakan sungmin itu benar???
katakan!! katakan! aku ingin bertemu dengan hyukjae sekarang!!!!” kata istriku,
pipinya telah basah oleh air mata yang tidak henti-hentinya
keluar dari matanya. iapun mengguncang tubuhku, aku hanya bisa menarik nafas
panjang. akupun menatap lekat jalan buntu itu, akupun mulai membuka mulut.
“HYUKJAE KEMBALILAH TOLONG KEMBALIKAN HYUKJAE KAMI!!!” kataku
berteriak sekuat tenaga.
Namun tidak ada jawaban
“ANIYAA HYUKJAEE HYUKJAEE KEMBALI!!”
kini istriku mulai lepas kendali, ia menangis sejadi-jadinya dan
terus menerikan nama anak semata wayang kami. Namun tetap tidak ada jawaban.
Hanya nyanyian burung gagak yang terdengar, rembulan muncul dibalik awan hitam,
seakan langit mengejek kami. Tidak ada satupun yang ramah kepada kami, bahkan
tanah yang seakan menolak kehadiran kami. Akupun menutup mataku dan menarik
nafas panjang hanya satu yang dapat kukatakan dari hati yang paling dalam
Tuhan.. tolong lindungi hyukjae kami
HyukJae POV
Bibi hyeon melangkahkan kakinya sambil membantuku membawa
barang-barangku. Aku menatap kesekeliling ruangan rumahnya. Tidak
se-menyeram-kan yang aku duga. Rumahnya terlihat seperti rumah pada umumnya
tidak besar, namun tidak kecil hanya saja sedikit tua. Namun hanya sepi yang
kudapat menyelimuti rumah sederhana itu, tidak ada satupun yang menandakan
adanya kehidupan manusia lain selain aku dan bibi hyeon. Akhirnya akupun
memutuskan untuk bertanya.
“bibi hyeon.. apa kau tinggal sendiri?”
“tidak.. aku tinggal bersama suamiku dan kedua anakku..”
“oh ya? Maksutmu mereka yang ada di foto ini?” kataku sambil
menunjuk kesebuah foto yang berukuran cukup besar di ruang keluarga.
Terdapat bibi hyeon, seorang pria dan dua orang anak yang
sepertinya mereka berdua kembar. Mereka berempat menampakkan ekspresi yang
sama. Terdiam, dan menatap kosong kedepan. Namun, aku dapat melihat jelas di
kedua mata anak tersebut. Mereka terlihat.. ketakutan.
“itu aku.. ada masalah?” kata seorang namja yang sukses membuat
sekujur tubuhku bergidik ngeri mendengar suaranya yang sedikit tercekat.
Akupun membalikan badanku dan mendapati seorang namja yang
kulitnya tidak sepucat penduduk desa pada umumnya, namun entah mengapa namja ini
mengeluarkan aura yang berbeda. Rambutnya yang hitam terurai indah, bibirnyapun
tidak terlalu pucat. Aku berani bertaruh namja ini seumuran denganku hanya saja
ia tidak terlihat ramah.
“aku youngmin..” katanya sembari menyodorkan tangannya ke
arahku. Tangannya sangat kaku, dan terlihat sangat dingin seperti es batu.
Sejujurnya aku enggan menjabat tangannya, namun kurasa aku harus melakukannya
mungkin saja ia akan sedikit ramah padaku.
“oh hai youngmin, aku Hyukjae.. Lee Hyukjae! Kau bisa
memanggilku hyukjae atau eunhyuk” kataku sembari menyambut tangannya dan benar
saja, tangannya bahkan lebih dingin daripada es batu!
“oh oke eunhyuk..” katanya singkat tanpa ekspresi.
Namun ia tidak melepaskan tanganku dari jabatannya, aku mulai
heran dengan sikapnya akupun mencoba menarik tanganku, namun nihil aku tidak
dapat menggerakannya. Ini aneh! Air muka anak itu sama sekali tidak berubah
datar, kosong, bagai tak hidup, seperti patung. Beberapa saat kemudian air muka
anak itu mulai berubah, ia mulai menitihkan air mata.
“hiks.. toloong.. hiks.. tolongg..”
Aku
terbelak mendengar kata itu terucap dari bibirnya yang tidak terlalu pucat, ia
menangis atau bisa kubilang air matanya mengalir, tapi ekspresinya tidak
berubah, tatapannya tetap kosong. Entahlah, aku heran melihat kelakuannya tapi
entah mengapa.. ia terlihat berbeda dengan beberapa menit yang lalu, ia
terlihat menyedihkan. Akupun hanya bisa terdiam dan menatap dirinya yang masih
saja mengalirkan air mata. Tiba-tiba bibi hyeon menarik
tangan youngmin dengan paksa sehingga tanganku terbebas dari jabatannya. Bibi
hyeonpun mengantarkan youngmin kedalam kamarnya dan menutup pintunya. Bisa
kudengar dengan jelas, youngmin berteriak histeris tanpa terkendali.
“maaf dia.. dia menjadi gila semenjak kembarannya, kwangmin
meninggal beberapa tahun yang lalu..” kata bibi hyeon sambil menundukan
kepalanya.
“ani.. tidak apa, aku bisa mengerti perasaannya.. pasti sangat
sedih kehilangan orang yang disayangi..”
Bibi hyeon hanya tersenyum tipis. Iapun mengangkat kembali
barang-barangku dan melangkahkan kakinya lagi. Kini kami mulai menaiki anak
tangga yang terbuat dari kayu, yang menyebabkan setiap langkah menyebabkan anak
tangga itu berderit. Kamipun sampai di lantai dua. Hanya terdapat satu pintu.
Bibi hyeonpun perlahan memutar gagang pintunya.
“ini.. kamarmu maaf kamarmu tidak terlalu bagus tapi tenang saja
aku sudah membersihkannya..”
“ah iya! Kamsahamnida bibi hyeon, bagiku ini sudah cukup kok!”
kataku mencoba menyunggingkan senyum.
“kalau ada apa-apa kau bisa menghubungiku di bawah, kamarku
terletak tepat di samping kamar youngmin arra?”
“ne, Ahjumma..”
Bibi heyonpun meninggalkanku sendiri. Akupun menatap seisi
ruangan itu. Hanya terdapat sebuah lemari, sebuah tempat tidur yang tidak
terlalu besar, dan sebuah jendela yang kecil. Selebihnya kosong, lantainya
terbuat dari kayu yang sama dengan anak tangga tadi, setiap aku menapakinya
maka lantai itu akan berderit. Akupun meletakan barang-barangku dan tertarik
dengan jendela kecil itu. Akupun berjalan dan berusaha mengintip dibalik
jendela kecil itu. Akupun mendapati dibalik kabut dan langit malam aku dapat
melihat jelas. Sebuah tempat yang dipagari, sangat gersang dan tidak terawatt.
Terdapat berbagai macam permainan anak-anak yang sudah karatan dan usang,
sarang laba-labapun turut menghiasinya.
“tempat apa ini?” tanyaku pada diri sendiri.
“ohh itu, itu dulunya tempat yang sangat menyenangkan! Biasanya
anak-anak kecil bermain disana tapi beberapa tahun terakhir sudah tidak ada
anak-anak lagi jadi tempat itu kini nyaris terlupakan”
Aku terbelak mendengar suara seseorang yang tiba-tiba saja
berada disampingku. Aku melihat seorang namja yang sepertinya berusia sama
denganku. Dia terlihat sama dengan penduduk desa lainnya, kulit dan bibir
pucat, namun ia terlihat ramah. Entah mengapa aku merasa nyaman didekatnya
namun tetap saja..
“SIAPA KAU???”
“aku? Aku donghae! Lee donghae, panggil saja aku donghae!”
katanya dengan senyum yang sangat ramah.
“sejak kapan kau disitu?”
“sejak tadi! Kau tidak menyadarinya ya? Hahaha sangkin
terbiusnya dengan pemandangan itu kau sampai tidak sadar kalau aku memasuki
kamarmu!”
“kenapa kau memasuki kamarku?”
“aku penasaran mendengar suara orang yang datang, ternyata kau
memang menjadi penghuni baru kamar ini!”
“me..mendengar??”
“iya! Kamarku terletak tepat di samping kamarmu”
“apa??” akupun langsung berlari menuju pintu kamarku dan segera
membukanya. Ternyata ia benar, terdapat satu pintu lagi tepat di samping
kamarku. Akupun menatapnya kembali.
“lihat?”
“oke… tapi tadi aku hanya melihat kamarku tidak melihat pintu
kamarmu!”
“haha mungkin matamu sedang bermasalah, aku senang akhirnya aku
dapat teman baru”
“kau tinggal disini?”
“ya.. aku menumpang tinggal dikeluarga ini..”
“kenapa?”
“aku tinggal sebatang kara, appa dan eommaku sudah meninggal”
katanya sambil menyunggingkan senyum pahit.
“oh.. maafkan aku..”
“gwenchana, jadi.. karena apa kau kesini?”
“hemm.. yaa orang tuaku mengirimku kesini” jawabku, akupun
menatapnya ia terlihat heran dengan jawaban yang ku berikan.
“maksutnya?”
“ya.. karena kelakuanku selama di sekolah tidak baik, mereka
mengirimku kesini mereka bilang siapa tahu aku bisa merubah kelakuanku hhhh
ada-ada saja, bilang saja mereka menyesal mempunyai anak sepertiku..”
“menyesal? Tidak ada satu orangpun orang tua yang menyesal telah
membesarkan anaknya.. mereka melakukan itu pasti karena menyayangimu.. jadi..
apa yang orang tuamu lakukan kepadamu? Mendorongmu sampai dasar jurang?”
“aku tidak mengerti ucapanmu..” kataku mulai mengerutkan dahiku,
hey kemana arah pembicaraan ini? Jangan bilang orang itu sama gilanya dengan si
kembar tadi. Sesaat ia terdiam dan menatapku dengan heran kemudian ia kembali
berbicara.
“ah tidak bukan apa-apa hahaha aku hanya bergurau” iapun tertawa
Akupun hanya tertawa, mengikuti dirinya. Yaah kurasa orang ini
tidak berbeda jauh dengan si youngmin itu. Mungkin ia juga memiliki gangguan
jiwa, batinku. Ternyata donghae, sangatlah ramah. Ia mengajakku mengobrol
hingga berjam-jam ia juga cukup asik untuk diajak bicara ternyata ia jauh dari
bayanganku. Hingga akhirnya akupun merasa lelah dan sepertinya iapun juga
begitu. Iapun memutuskan untuk meninggalkanku dan kembali kemar tidurnya.
Setelah mengucapkan salam kepadanya kamipun saling menutup pintu kamar kami
berdua. Akupun membaringkan tubuhku ke kasur dan perlahan akupun memejamkan
mataku.
Aku melihat seorang bocah kecil, diajak pergi ke sebuah taman
yang sangat indah bersama kedua orang tuanya. Mereka terlihat bahagia, seorang
ayah, seorang ibu dan satu orang anak. Mereka saling bercengkrama, tawa dan
bahagia menghiasi mereka hingga orangtua tersebut mengajak anaknya ke suatu
tempat. Tempat yang sangat usang, dan tua. Anak itu terlihat ketakutan dan
enggan memasukinya, namun orangtuanya hanya tersenyum tipis kepada anak mereka.
Aku dapat melihat jelas, diwajah kedua orang tua itu mereka terlihat sedih,
pahit, kekhawatiran menghantui mereka. Orangtuanya berjongkok sehingga tinggi
mereka kini setara dengan anaknya. Mereka menatap lekat anak semata wayangnya.
Sang ibu tak kuasa menahan air mata sehingga bulir-bulir air bening itu kini
membasahi pipinya.
“donghae-ya… mau tidak kau menunggu sebentar kami di dalam
gudang ini? Kami akan segera menjemputmu kembali”
“aniya appa, aku mau ikut kalian” kata anak itu setengah
menangis.
“tenanglah donghae-ya, appa berjanji akan menjemputmu.. appa
berjanji kita akan bertemu… sekarang masuklah kedalam.. diluar dingin”
“tapi appa..”
Eommanya hanya bisa menangis dan menangis aku heran melihat
pemandangan ini tapi tunggu! Tadi appanya bilang siapa? Donghae? Bukankah dia
adalah namja yang tidur di samping kamarku? Apa itu donghae kecil? Ribuan
pertanyaan memenuhi benakku. Dan pada akhirnya donghae kecilpun menuruti
perintah appa eommanya ia memasuki gudang tua itu. Donghae kecilpun mengintip
dibalik jendela, melihat kedua orangtuanya yang semakin lama semakin menjauh
hingga akhirnya hilang dalam kabut.
Namun, hal yang tidak disangka. Ternyata kedua orangtuanya
kembali lebih cepat! Tapi hey, kenapa mereka tidak menuju pintu depan gudang
itu? Kini mereka malah memutar jalan dan menuju belakang gudang. Akupun
mengikuti mereka. Alangkah terkejutnya aku begitu melihat pemandangan yang
sangat mengerikan. Terdapat berdrigen drigen minyak tanah yang sedang mereka
taburi kesekeliling gudang tersebut. Isak tangis tidak hentinya terdengar dari
suara eommanya. Apa yang akan mereka lakukan? Tidak jangan bilang kalau..
Tiba-tiba api berkobar dengan cepat melahap setiap senti gudang
tersebut. Kedua orangtua tersebut hanya bisa menatap pemandangan itu dari
kejauhan sambil berlinang air mata. Tunggu, apa yang mereka lakukan?? Bagaimana
dengan donghae kecil disana?? Mengapa mereka membiarkan dirinya di dalam gudang
yang telah terlahap si jago merah itu?
tolong.. tolong aku..
seseorang tolong aku
panas, seseorang keluarkan aku dari sini aku mohon
appa eomma.. kalian kenapa??
aku belum ingin mati
tolong seseorang tolong aku!
Jeritan donghae kecil dapat terdengar jelas dari dalam gudang
sana. Ia berteriak dibalik jendela kecil itu dengan tatapan memelas sambil
menatap kedua orangtuanya. Akupun mencoba melangkahkan kakiku namun berat,
kakiku terasa sangat berat untuk digerakan. Dan kedua orangtua itu sama sekali
tidak bergerak sesentipun! Yang mereka lakukan hanyalah menangis, dan menangis.
Orangtua macam apa mereka? Tega-teganya mencoba membunuh seorang bocah kecil
yang tidak bersalah! Akupun menerobos gudang tersebut kudapati donghae kecil
yang masih menangis. Akupun mencoba menggapainya tapi saat aku mencoba
menyentuhnya, namun sayang tiba-tiba saja atap gedung yang telah penuh dengan
api itu runtuh.
“hey hyukie! Bangun!”
Aku membuka mataku, sekujur tubuhku penuh dengan keringat
dingin. Aku mendapati seorang namja yang tersenyum lembut kepadaku. Ternyata
itu donghae. Dia masih hidup. Ternyata yang kualami barusan hanyalah bunga
tidur. Tapi.. itu terlalu nyata, ah tidak.. mana mungkin ka nada manusia yang
telah mati dan hidup kembali? Akupun terduduk di tempat tidurku. Donghae masih
menyunggingkan senyumannya yang lembut. Iapun menyodorkan segelas air putih
kepadaku.
“ini, minumlah..”
“ah iya, terimakasih..”
“kau sudah melihatnya?”
“apa?” kataku dan saat itu juga aku tersedak sehingga membuat
seluruh isi air yang terdapat di mulutku tumpah. Iapun mengambil tisu dan
menyerahkannya kepadaku.
“ya.. tentu saja bagaimana aku bisa berada disini..” lanjutnya
lagi.
“apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti”
“jadi kau tidak tahu?”
“maksutmu..”
“ayo ikut aku..”
“kemana?”
“ke kamarku” katanya singkat dan segera menarik tanganku
Akupun hanya mengikutinya, iapun membuka kenop pintu kamarku
tapi dan iapun menyempatkan diri untuk melihat keadaan sekitar seolah ia sangat
waspada. Setelah dirasanya cukup aman, iapun menarik tanganku dengan
terburu-buru dan memasuki kamarnya. Gelap, sangat gelap kudapati di dalam
kamarnya berbeda dengan kamarku yang walaupun hanya sebatas jendela kecil dan langit
berkabut, aku masih dapat merasakan cahaya sang surya. Tiba-tiba sebuah sorot
cahaya menyilaukan mataku. Samar-samar aku melihat sebuah jendela yang sangat
besar. Donghaepun mengajakku mendekatinya. Kudapati sebuah pemandangan yang
sangat mengerikan. Ya, aku melihat para penduduk desa yang berkulit putih, dan
bibir pucat, rambut yang hitam kusam dan sangat rusak. Mereka berjalan
terhuyung-huyung karena.. anggota tubuh mereka bagai remuk dan tidak lengkap.
Ada yang berjalan hanya dengan satu kaki, dan sebelah tangan yang patah.
Ada juga yang berjalan dengan mata yang bolong sebelah, dan
memegang bola mata di tangan yang jari-jarinya telah patah. Ada juga anak-anak
kecil yang berlari-larinan dengan susah payah dan saling kejar-kejaran namun..
sebelah wajahnya tidak lagi dilapisi daging melainkan hanyalah tengkoraknya
saja. Ada juga seorang penduduk yang memakai baju polisi compang camping,
dengan celana yang panjang sebelah, tragisnya dibagian celana yang pendek aku
dapat melihat tulang kakinya tanpa dibalut oleh secuil dagingpun. Aku juga
dapat melihat sebuah kepala yang dibawa dengan santai oleh sebuah tubuh yang
berjalan tanpa kepala.
Mereka terlihat seperti mayat hidup, sangat kaku, beku dan
menyeramkan. Ekspresi mereka semua datar tidak ada yang memiliki ekspresi yang
lebih dari itu. Aku tidak percaya melihat semua penampakan ini. Mataku
membulat, tubuhku bergetar hebat, untuk pertamakalinya dalam hidupku aku merasa
takut. Keringat dingin tidak henti-hentinya mengucur dari tubuhku. Tempat apa
ini sebenarnya??
“apa.. APA APAAN INI???” tanyaku terbelak tidak percaya melihat
pemandangan mengerikan itu.
“ya, itu para penduduk desa… selamat datang di Axphrote.. kota
para mayat hidup..”
~To Be Continued~
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
[ Teaser part 2 ]
kau mau kemana?
hey jawab aku kenapa kau diam saja?
kenapa tubuhmu dingin? hey jawab! jawab aku!
kwangmin, buka matamu! kenapa.. kenapa aku tidak bisa merasakan
detak jantungmu??
jangan bercanda! kau tidak mau meninggalkanku sendiri disini kan?
kwangmin jawab aku tidak.. KWANGMIINNN!!!
apakah yang terjadi sama hyukjae disana? akankah ia dapat
kembali kepada orang tuanya? dan apakah yang akan terjadi di part II? ada
special cast jo twins looh ^^ silahkan tunggu part duanya, author mau main
bekel dulu sama onew~^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar